PLN
-->

Simulasi
Tagihan Rekening Listrik Anda
Golongan
Tarif
|
: RUMAH
TANGGA
|
R-1/TR
|
Batas Daya
|
: 900
|
VA
|
Biaya
Beban
|
: 20000
|
RpkVA/bulan
|
Biaya
abonemen
|
: 0
|
Rpbulan
|
Jumlah
Pemakaian
|
: 91
|
kWh
|
Biaya
Beban
|
: 18000
|
Rupiah
|
Biaya
Total
|
: 56645
|
Rupiah
|
Golongan Tarif (TTL 2010)
TARlF DASAR
LlSTRlK UNTUK KEPERLUAN RUMAH TANGGA
|
|||||
No
|
GOL.
TARlF
|
BATAS
DAYA
|
REGULER
|
||
BlAYA BEBAN
(Rp/kVA/bulan)
|
BlAYA PEMAKAIAN (Rp/kWh) DAN
BlAYA kVArh (Rp/kVArh)
|
PRA BAYAR
( Rp/kWh)
|
|||
1.
|
R-1/TR
|
450 VA
|
11 .OOO
|
Blok I : 0 s.d. 30 kwh : 169
Blok ll : di atas 30 kwh s.d 60 kWh : 360
Blok Ill : di atas 60 kwh : 495
|
415
|
2.
|
R-I/TR
|
900 VA
|
20.000
|
Blok I : 0 s.d. 20 kwh : 275
Blok ll : di atas 20 kwh s.d 60 kWh : 445
Blok Ill : di atas 60 kwh : 495
|
605
|
3.
|
R-1/TR
|
1.300
VA
|
*)
|
790
|
790
|
4.
|
R-1/TR
|
2.200
VA
|
*)
|
795
|
795
|
5.
|
R-2/TR
|
3.500
s.d
5.500 VA
|
*)
|
890
|
890
|
6.
|
R-3/TR
|
6.600
VA
ke atas
|
**)
|
Blok I : HI x
890
Blok II : H2
x 1.380
|
1.330
|
Catatan :
*)
Diterapkan Rekening Minimum (RM) : RM1 = 40 (Jam Nyala) x Daya tersambung (kVA)
x Biaya Pemakaian.
**)
Diterapkan Rekening Minimum (RM) : RM2 = 40 (Jam Nyala) x Daya tersambung (kVA)
x Biaya Pemakaian Blok I
• Jam nyala
: kwh per bulan dibagi dengan kVA tersambung.
• H 1:
Persentase batas hemat terhadap jam nyala rata-rata nasional x daya tersambung
(kVA).
• H 2 : Pemakaian
listrik (kwh) – H1.
• Besar
persentase batas hemat dan jam nyala rata-rata nasional ditetapkan oleh Direksi
Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perusahaan Listrik Negara dengan persetujuan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.
Oleh : Direktur Utama PLN Nur Pamudji
“Merdeka” punya banyak makna. Bagi sebuah bangsa
yang terjajah, merdeka adalah bebas dari penjajahan, oleh sebab itu para
pendiri bangsa Indonesia mengguratkan frasa berikut di Mukadimah Konstitusi:
“kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di
atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan
peri keadilan”.
Bagi sebuah kampung terpencil yang belum
berlistrik, merdeka bermakna menyalanya lampu listrik di rumah-rumah mereka.
Ketika Direksi PLN mengunjungi sebuah kampung di pelosok pulau Timor, yang
hanya bisa dicapai dengan menyeberangi 4 sungai tanpa jembatan beberapa bulan
lalu, para tetua kampung berujar: “NKRI sudah 66 tahun lebih merdeka, tetapi
baru hari ini kami yang tinggal di kampung ini merasakan merdeka, karena baru
kali ini layanan PLN sampai ke kampung kami”. Sampai 2012, memang baru 73
persen rumah tangga berlistrik. Masih ada sekitar 13 juta rumah yang belum
menikmati listrik dari layanan publik, yang masih harus diperjuangkan oleh
berbagai pihak: Pemerintah Daerah harus membangun akses jalan ke
kampung-kampung belum berlistrik, Pemerintah Pusat dan DPR harus menyediakan
anggaran yang cukup untuk membangun jaringan dan pembangkit listrik pedesaan,
PLN harus tangkas merealisasikan anggaran yang sudah disediakan, dan last but
not least, pelanggan yang sudah lama menikmati layanan listrik harus solider
terhadap sesama warga negara yang belum menikmati listrik, yang ditunjukkan
dengan kesediaan untuk tidak menerima subsidi.
Listrik untuk pedesaan, kota kecamatan dan daerah
terpencil lainnya, pada umumnya berasal dari pembangkit diesel. Jenis
pembangkit ini memang andal, mudah dan cepat dibangun, lagi pula bahan bakarnya
mudah diperoleh karena tersedia di pasar. Ukuran pembangkit diesel bervariasi
dari beberapa kiloWatt sampai puluhan megaWatt, cocok dengan tingkat kebutuhan
listrik di daerah-daerah terpencil tersebut, yang memang awalnya belum begitu
besar, namun akan terus bertambah sejalan dengan tingkat kegiatan ekonomi di
sana. Harga BBM terus naik. PLN saat ini bertekad untuk tidak lagi membangun
pembangkit listrik baru yang menggunakan bahan bakar minyak, maka harus dicari
teknologi lain yang tidak menggunakan BBM. Tidak semua daerah ini memiliki
sumber energi terbarukan yang andal seperti tenaga air. Tenaga matahari memang
tersedia, tetapi pasokan listrik dari tenaga matahari saja, dengan tingkat
keandalan dan stabilitas yang setara dengan pasokan menggunakan pembangkit
diesel, memerlukan biaya yang lebih mahal dari diesel. Tenaga matahari baru
andal dan stabil serta ekonomis kalau dijadikan suplemen, digabung dengan
sumber listrik dari pembangkit diesel, yang lazim disebut pembangkit hybrida.
Sebab itu, para insinyur PLN kini sedang berburu ke berbagai negeri untuk
mendapatkan teknologi pembangkit listrik yang seandal dan sestabil diesel,
dengan unit size beberapa ratus kiloWatt yang berbahan bakar batubara kalori
rendah atau kayu. Daerah-daerah terpencil yang memungkinkan untuk mendapat
pasokan batubara dari Kalimantan atau Sumatera akan menggunakan pembangkit
listrik paduan gasifikasi batubara dan gas engine. Daerah-daerah yang bisa
menyediakan kayu dari hutan tanaman industri (diperlukan sekitar 100 hektar
hutan untuk setiap 1 MW) akan menggunakan pembangkit listrik paduan gasifikasi
kayu dan gas engine. Daerah yang sulit dijangkau distribusi batubara dan tidak
cukup punya luasan hutan, untuk sementara hanya dilistriki menggunakan
pembangkit tenaga matahari komunal atau Sehen Mandiri (panel surya yang
dipasang di atap rumah sekedar untuk memenuhi kebutuhan penerangan di malam
hari), dengan tingkat keandalan, kestabilan dan kuantitas pasokan listrik yang
lebih rendah dari standar PLN pada umumnya. Daerah-daerah ini kelak akan
dijangkau jaringan transmisi tegangan tinggi, dan akan menerima listrik dari
luar daerah.
Bagi bangsa yang sudah berdaulat, merdeka berarti
tidak tergantung pada bangsa lain, termasuk di bidang teknologi kelistrikan.
Setelah 67 tahun merdeka, pabrik-pabrik di Indonesia sudah mengekspor peralatan
listrik bertegangan rendah dan tegangan menengah. Sebagian kebutuhan tegangan
tinggi seperti kabel, menara dan kawat transmisi adalah produksi dalam negeri,
namun untuk peralatan gardu induk dan pembangkit listrik praktis masih diimpor.
Di masa lalu, PLN masih mengimpor trafo 150/20 kV dan 70/20 kV biarpun dua
pabrik yang ada di Indonesia sanggup mencukupi kebutuhan dalam negeri, malah
keduanya sudah mengekspor ke Eropa, Asia dan Australia. Pabrik boiler di
Indonesia mengekspor boiler berukuran sampai 600 MW ke Eropa dan Amerika
Serikat, namun boiler PLTU PLN dan listrik swasta didatangkan dari Jepang dan
China. Pabrik kondenser yang sudah mengekspor kondenser sampai dengan 1000 MW,
produknya malah belum digunakan di Indonesia, dan kita mengimpor dari Jepang
dan China. Di masa lalu memang tidak ada keberpihakan terhadap produk dalam
negeri, aturan pengadaan barang dan jasa, yang kita tulis sendiri, tidak cukup
mengakomodasi keperluan itu. Padahal kemandirian teknologi bagi bangsa besar
seperti Indonesia adalah suatu keniscayaan demi eksistensi bangsa dalam jangka
panjang.
Direksi PLN sudah menetapkan haluan baru, produk
dalam negeri harus diutamakan. Cara pengadaan barang dan jasa harus lebih
kreatif, tidak terbatas pada cara-cara yang sudah pernah dilakukan. Harus ada
cara baru. Misalnya untuk trafo tegangan tinggi, hanya ada dua pabrik di
Indonesia. Kalau keduanya diadu di arena lelang barang, maka kemungkinannya
hanya ada dua, keduanya “saling bunuh”, atau diam-diam berkartel, dan kedua
cara ini merugikan semua fihak. Maka Direksi PLN menetapkan cara pembelian
trafo secara open book, yaitu membedah secara rinci ongkos produksi trafo untuk
menyepakati harga pembelian trafo dari kedua pabrik tersebut. Cara yang sama
juga akan diterapkan untuk pabrik turbin dan generator di Bandung berukuran
sampai dengan 20 MW, sehingga tidak perlu lagi mengimpor PLTU ukuran kecil dari
China atau negara mana pun, karena PLN bersama industriawan dalam negeri akan
bersama-sama membangun kemampuan tersebut. Bahkan pembangkit listrik swasta ukuran
sampai 1000 MW pun akan kita wajibkan menggunakan produk dalam negeri, dengan
menuliskannya secara eksplisit di dokumen tender. Namun karena hanya ada satu
pabrik boiler dan satu pabrik kondenser, kekuasaan monopoli dari masing-masing
pabrik harus dihindari, sebab itu PLN harus bisa memastikan bahwa harga boiler
dan kondenser yang ditawarkan ke listrik swasta adalah harga yang wajar (sebab
pada akhirnya seluruh biaya yang ditanggung listrik swasta akan dibebankan ke
PLN). Cara-cara pengadaan barang jasa yang out of the box ini memang rawan
dicurigai orang awam sebagai arena korupsi atau gratifikasi. Opini publik yang
terbentuk selama ini adalah hanya lelang yang bisa meminimalkan korupsi.
Padahal ada atau tidak ada korupsi adalah soal niat, kalau memang ada niat
korupsi, mau cara apa pun yang dipakai, tetap ada korupsi. Oleh karena itu PLN
harus berani menempuh jalan baru ini sembari menunjukkan bahwa kita
melakukannya tanpa ada korupsi atau gratifikasi. Aturan baru pengadaan barang
dan jasa dilaksanakan paralel dengan aturan yang sudah lama berlaku, dan secara
bertahap aturan baru akan dikembangkan bersama Transparency International
Indonesia, sampai aturan lama bisa digantikan sepenuhnya.
Merdeka bagi anak bangsa adalah bebas dari segala
bentuk pengambilan hak oleh sesama anak bangsa. Korupsi adalah suatu bentuk
pengambilan hak orang banyak oleh segelintir anak bangsa pelaku korupsi. Oleh
sebab itu, sejalan dengan upaya yang dilakukan oleh Pemerintah untuk
memberantas korupsi, PLN juga melakukan upaya-upaya nyata untuk mengeliminasi
sisa-sisa korupsi di tubuh PLN, baik korupsi aktif maupun pasif. Korupsi aktif
adalah secara sengaja mengupayakan agar ada aliran dana ke pelaku. Korupsi
pasif adalah menerima aliran dana tanpa diminta, berupa hadiah uang atau barang/layanan
berharga, atau lazim disebut menerima gratifikasi. Kita sudah bertekad, Direksi
dan pegawai PLN menolak segala bentuk pemberian hadiah dan gratifikasi. Ajakan
kepada para rekanan PLN untuk menghentikan praktek pemberian hadiah, dilakukan
dengan bekerjasama dengan Transparency International Indonesia serta KPK.
Last but not least, makna merdeka yang paling
hakiki adalah merdekanya setiap individu anak bangsa dari penjajahan oleh
pikiran individu itu sendiri, terutama rasa takut: takut miskin, takut
kehilangan jabatan, takut kepada sesama manusia, takut meninggalkan zona
nyaman.
Kepada para calon pegawai yang akan diterima
menjadi karyawan PLN, saya selalu berpesan, agar jangan takut miskin bila kelak
bekerja di PLN. Insya Allah kebutuhan hidup karyawan PLN tercukupi dari gaji.
Anak-anak karyawan akan bisa sekolah sampai perguruan tinggi. Rumah dan
kendaraan yang diperlukan akan terbeli. Asal para karyawan bersedia hidup
wajar-wajar saja, tidak perlu bergelimang kemewahan. Oleh karena itu tidak perlu
menerima hadiah dari orang-orang yang berinteraksi dengan PLN, apalagi
menyengaja mengatur agar menerima uang dari rekanan PLN. Saya mengingatkan agar
jangan mau dipengaruhi untuk korupsi, meski diancam akan kehilangan jabatan.
Intinya: jangan takut kepada sesama manusia.
Individu yang pikirannya sudah merdeka, lepas
dari rasa takut yang tidak perlu itu, akan selalu optimistik, menjalani
hidupnya untuk melayani orang lain, menggunakan materi sekedar sebagai alat
untuk melayani. Ia menyadari bahwa daya dan kekuatan itu hanya berasal dari
Tuhan, dan karena Tuhan adalah sumber dari kebenaran, maka ia sama sekali tidak
merasa takut untuk berbuat benar.
Akhirul kalam, bagi segenap pegawai PLN yang
telah menunaikan puasa, kami ucapkan selamat idul fitri 1433 H, mohon maaf
lahir dan bathin.
Komentar
Posting Komentar